Banjir dan Banjir Bandang, Upaya Mengurangi Dampak dan Prospeknya Kedepan di Kabupaten Pati

OPINI, PATINEWS.COM

Saya pribadi cukup prihatin dan berduka mengetahui kota kelahiran saya yaitu Kabupaten Pati dilanda berbagai bencana hidrometeorologi dalam kurun waktu 1 bulan terakhir. Jujur saya tidak dapat membantu secara maksimal mengingat saya sedang bertugas jauh diluar Pati, sehingga saya akan sedikit mencoba membantu dengan opini saya dalam artikel ini.

Apa yang Perbedaan Banjir dan Banjir Bandang ?

Banjir dan banjir bandang terlihat serupa namun tidaklah sama.  Banjir merupakan salah satu bencana hidrometeorologi yang disebabkan curah hujan yang lebih besar dari laju infiltrasi atau penyerapan tanah. Banjir berpotensi terjadi di daerah aliran sungai maupun dataran rendah seperti Kecamatan Pati, Gabus, Margorejo, Jakenan, Juwana, Batangan, Trangkil, Wedarijaksa, Tayu dan Margoyoso. Sementara banjir bandang adalah salah satu bencana hidrometeorologi yang terjadi ketika jalur aliran air terbendung baik oleh sampah, kayu, bebatuan maupun bendungan buatan. Saat hujan turun dengan intensitas lebat dan pembendung aliran air tidak dapat menahanya, maka bendungan jebol dan air mengalir dengan deras, cepat dan membawa material pembendung seperti kayu, sampah dan bebatuan. Wilayah pegunungan dan perbukitan memiliki potensi banjir bandang seperti Kecamatan Kayen, Sukolilo, Winong, Tambakromo, Pucakwangi, Margorejo, Gembong, Tlogowungu, Gunungwungkal dan Cluwak

Apa Penyebab Banjir dan Banjir Bandang serta bagaimana upaya mengatasinya ?

Banjir dan banjir bandang disebabkan oleh 2 faktor utama yaitu faktor alam dan buatan dengan rincian sebagai berikut :

Faktor alam : curah hujan tinggi, pendangkalan badan air seperti sungai dan waduk akibat sedimentasi serta sampah akibat guguran daun dan ranting.

Faktor buatan : menjadikan badan air sebagai tempat pembuangan sampah, penggundulan hutan, penambangan ilegal dan berkurangnya area resapan air akibat pembangunan yang tidak memperhatikan amdal.

Upaya mengatasinya hanya satu. Kita memang tidak bisa mengatur faktor alam tetapi kita bisa mengurangi faktor buatan untuk menurunkan potensi banjir dan banjir bandang.

Kapan Waktu Terjadinya ?

Banjir dapat disebabkan oleh hujan dengan intensitas lebat maupun hujan intensitas sedang dengan durasi yang lama. Sehingga banjir berpotensi terjadi di puncak musim penghujan seperti Desember, Januari dan Februari.

Banjir bandang hanya disebabkan oleh hujan dengan intensitas lebat. Sehingga potensi banjir bandang ada di awal dan di akhir musim penghujan seperti bulan November, Desember, Februari dan Maret.

Bagaimana Prospeknya Kedepan ?

Indonesia termasuk Kabupaten Pati telah mengalami triple La Nina yaitu La Nina yang terjadi selama 3 tahun berturut – turut. Indeks Muson juga menunjukan indikasi semakin menguat. Pola Tekanan Rendah juga terpantau terbentuk di sekitar wilayah Pulau Jawa. La Nina, Muson dan Tekanan Rendah menyebabkan banyak terbentuk awan nimbus sehingga potensi hujan masih cukup tinggi dalam 3 bulan kedepan. Potensi hujan yang cukup tinggi perlu menjadi perhatian bagi masyarakat dan pemerintah Kabupaten Pati untuk melakukan upaya terbaik meminimalisir dampak negatif curah hujan tinggi seperti banjir dan banjir bandang. Semoga masyarakat Kabupaten Pati selalu terhindar dari bencana hidrometeorologi selama musim hujan 2022/2023.

Penulis : Ekky Amiral Faqi 

Profesi : Forecaster Stasiun Meteorologi Enarotali

Alamat : Desa Blaru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *